Thursday, February 19, 2015

GIZI PADA LANJUT USIA


Image
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Angka keberhasilan pembangunan, terutama dibidang kesehatan, secara tidak langsung telah menurunkan angka kesakitan dan kematian penduduk, serta meningkatkan angka harapan hidup, meskipun tidak sekaligus berarti mutu kehidupan yang gilirannya menimbulkan perubahan struktur penduduk, sekaligus menambah jumlah penduduk lansia.
Status kesehatan lansia tidak boleh terlupakan karena berpengaruh dalam penilaian kebutuhan akan zat gizi. Ada lansia yang tergolong sehat dan ada yang tergolong kronis. Disamping itu, sebagian lansia masih mampu mengurus diri sendiri, sementara sebagian lain tidak. Banyak masalah gizi yang dialami lansia sehingga membutuhkan bantuan dalam penanggulangannya. Untuk menanggulangi masalah gizi yang dialami lansia dapat dilakukan dengan menjalankan beberapa program penanggulangan masalah gizi pada lansia.
1.2 Tujuan
Menjelaskan tentang program penanggulangan yang dapat dilakukan terhadap permasalahan gizi yang dialami lansia.
1.3 Manfaat
1. Bagi mahasiswa : menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa tentang program penanggulangan masalah gizi pada lansia.
2. Bagi Akademik : pemenuhan tugas kuliah yang diberikan oleh dosen
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Penyebab Masalah
Rasanya sudah umum diketahui bahwa penyebab masalah gizi adalah multifaktor, yang utamanya melibatkan faktor pendidikan, ekonomi, keamanan, pengendalian pertumbuhan penduduk, perbaikan sanitasi, keadilan sosial bagi perempuan dan anak-anak, kebijakan dan praktik yang benar terhadap lingkungan dan produktivitas pertanian. Sehubungan dengan itu, untuk dapat menuntaskan masalah gizi tentunya dibutuhkan satu program terintegrasi yang terkait dengan semua faktor tersebut.
Masalah gizi sering merupakan kelanjutan dari masalah kelaparan. Kelaparan sering membuat orang menjadi memikirkan dirinya sendiri terkait kebutuhan akan makanan untuk melangsungkan kehidupan, sehingga sering menyebabkan perilaku yang tidak etis seperti mencuri dan melukai orang lain hanya untuk mendapatkan makanan. Di Indonesia, masalah kelaparan memang tidak separah di Somalia, Sudan, ataupun Bangladesh, namun masih ditemukan masalah kurang kalori-protein (KKP) terutama pada anak balita, kurang zat besi terutama pada perempuan dewasa, kurang yodium dan kurang vitamin A serta kekurangan zat gizi lainnya seperti zink. Akibat terkait dari masalah tersebut adalah anak-anak di Indonesia berisiko untuk sering terkena penyakit infeksi yang berut, mengalami gangguan pertumbuhan atau gagal tumbuh dan mengalami kebutaan.
Kelaparan dan masalah gizi, utamanya masalah kurang kalori-protein sebetulnya tidak perlu terjadi di Negara manapun. Sistem pertanian yang baik harusnya memiliki kapasitas untuk menghasilkan makanan yang cukup untuk setiap individu. Orang akan kelaparan dan kurang gizi karena miskin. Kemiskinan itu dibuat oleh manusia sendiri, antara lain praktik diskriminasi terhadap perempuan terutama dalam kesempatan untuk pendidikan dan peluang kerja wabah HIV/AIDS, mempermasalahkan perbedaan rasial, pemerintah yang korupsi. Fktor-faktor lainnya adalah sumber air yang tidak aman, tingkat pendidikan yang rendah, distribusi bahan pangan yang tidak merata, tidak adanya kesempatan untuk bekerja dan produktivitas pertanian yang rendah sehingga
pada akhirnya akan berkontribusi terhadap masalah kurang gizi.
2.2 Program Penanggulangan
Cara mengakhiri masalah gizi kurang adalah dengan penanggulangan kurang gizi jangka panjang. Cara tersebut akan bergantung pada kemampuan manusia untuk bekerja sama untuk terwujudnya perkembangan pendidikan dan ekonomi, kedamaian, pengendalian pertumbuhan penduduk, perbaikan sanitasi, keadilan sosial bagi perempuan dan anak-anak. Faktor lain adalah kebijakan dan praktik yang benar terhadap lingkungan dan produktivitas pertanian. Kelompok yang sangat terpengaruh oleh kurang gizi harus aktif herpartisipasi dalam proses perencanaan dan implementasi program perbaikan gizi-kesehatan.
Terdapat program yang telah berhasil mengurangi rnasalah kurang gizi di berbagai negara di dunia yang dapat diadopsi. Program yang sering didengungkan adalah perbaikan ekonomi, pendidikan, gizi dan sanitasi akan mengatasi masalah kurang gizi dan penyakit infeksi serta meningkatkan usia harapan hidup di negara maju sekitar 100 tahun silam. Selain itu, kurang zat gizi tertentu secara nyata dapat diatasi melalui fortifrkasi makanan dan program edukasi gizi, contohnya:
1. Program suplementasi vitamin A dan edukasi tentang makanan kaya kandungan vitamin A dikaitkan dengan penurunan drastis kasus kurang vitamin A sedang dan berat serta infeksi pada anak-anak di Indonesia
2. Suplementasi makanan pada kelompok bayi di Rusia, Brazll, Afrika Selatan dan Cina dikaitkan dengan peningkatan skor IQ pada usia 8 tahun
3. Yodisasi garam dapat mengatasi masalah kurang yodium di Bolivia dan Ekuador
4. Kematian pada anak balita akibat kurang gizi dan penyakit terkait turun secara nyata di negara yang mempraktikkan pernberian ASl
5. Status kesehatan masyarakat di negara yang sedang berkembang mengalami perbaikan dengan penggunaan cairan oralit yang melindungi anak dari kekurangan cairan akibat diare dan program vaksinasi yang melindungi anak dari berbagai penyakit infeksi.
Untuk program gizi masyarakat dengan tujuan penanggulangan masalah gizi, sudah banyak program yang diluncurkan, antara lain program edukasi gizi, program suplementasi gizi melalui pernberian makanan maupun produk zat gizi seperti pil besi dan vitamin A, program fortifikasi bahan makanan seperti fortifikasi yodium pada garam maupun fortifikasi besi pada tepung. Meskipun demikian, angka kurang gizi di masyarakat terutama pada kelompok rentan masalah gizi seperti bayi,balita,anak sekolah, remaja, ibu hamil dan menyusui serta lanjut usia masih tetap menjadi masalah.
Penanggulangan gizi pada lansia dilakukan melalui monitoring BB (kartu lansia), pendidikan gizi (promosi garam beryodium, aneka ragam makanan (protein hewani terutama produk laut, sayur dan buah), hindari kegemukan dan obesitas, suplementasi Zn pada diabetes dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan mengembalikan fungsi pengecap. Lansia dengan penyakit degeneratif perlu diberikan konseling gizi mengenai penyakit.
2.2.1. Posyandu Lansia
Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya.
Posyandu lansia / kelompok usia lanjut adalah merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan bersumber daya masyarakat atau /UKBM yang dibentuk oleh masyarakat berdasarkan inisiatif dan kebutuhan itu sendiri khususnya pada penduduk usia lanjut. Pengertian usia lanjut adalah mereka yang telah berusia 60tahun keatas.
Tujuan pembentukan posyandu lansia secara garis besar antara lain:
1. Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat, sehingga terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia
2. Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam pelayanan kesehatan disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat usia lanjut.
Sasaran Posyandu Lansia
1. Sasaran langsung: Kelompok pra usia lanjut (45-59 tahun)
Kelompok usia lanjut (60 tahun keatas)Kelompok usia lanjut dengan resiko tinggi (70 tahun ke atas)
2. Sasaran tidak langsung: Keluarga dimana usia lanjut berada
Organisasi sosial yang bergerak dalam pembinaan usia lanjut
Masyarakat luas
Posyandu atau pos pelayanan terpadu merupakan program Puskesmas melalui kegiatan peran serta masyarakat yang ditujukan pada masyarakat setempat, khususnya balita, wanita usia subur, maupun lansia. Pelayanan kesehatan di posyandu lanjut usia meliputi pemeriksaan kesehatan fisik dan mental emosional yang dicatat dan dipantau dengan Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk mengetahui lebih awal penyakit yang diderita atau ancaman masalah kesehatan yang dihadapi.
Jenis Pelayanan Kesehatan yang diberikan kepada usia lanjut di Posyandu Lansia seperti tercantum dalam situs Pemerintah Kota Jogjakarta adalah:
1. Pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari meliputi kegiatan dasar dalam kehidupan, seperti makan/minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik turun tempat tidur, buang air besar/kecil dan sebagainya.
2. Pemeriksaan status mental. Pemeriksaan ini berhubungan dengan mental emosional dengan menggunakan pedoman metode 2 (dua ) menit.
3. Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan dan dicatat pada grafik indeks masa tubuh (IMT).\
4. Pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter dan stetoskop serta penghitungan denyut nadi selama satu menit.
5. Pemeriksaan hemoglobin menggunakan talquist, sahli atau cuprisulfat
6. Pemeriksaan adanya gula dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit gula (diabetes mellitus)
7. Pemeriksaan adanya zat putih telur (protein) dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit ginjal.
8. Pelaksanaan rujukan ke Puskesmas bilamana ada keluhan dan atau ditemukan kelainan pada pemeriksaan butir 1 hingga 7. Dan
9. Penyuluhan Kesehatan.
Kegiatan lain yang dapat dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi setempat seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dengan memperhatikan aspek kesehatan dan gizi lanjut usia dan kegiatan olah raga seperti senam lanjut usia, gerak jalan santai untuk meningkatkan kebugaran.
Kegiatan posyandu lansia yang berjalan dengan baik akan memberi kemudahan bagi lansia dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dasar, sehingga kualitas hidup masyarakat di usia lanjut tetap terjaga dengan baik dan optimal. Berbagai kegiatan dan program posyandu lansia tersebut sangat baik dan banyak memberikan manfaat bagi para orang tua di wilayahnya. Seharusnya para lansia berupaya memanfaatkan adanya posyandu tersebut sebaik mungkin, agar kesehatan para lansia dapat terpelihara dan terpantau secara optimal.
Kebutuhan gizi klien lanjut usia perlu dipenuhi secara adekuat untuk kelangsungan proses pergantian sel dalam tubuh, mengatasi proses menua, dan memperlambat terjadinya usia biologis. Kebutuhan kalori pada klien lanjut usia berkurangnya kalori dasar akibat kegiatan fisik. Kalori dasar adalah kalori yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tubuh dalam kadaan istirahat, misalnya untuk jantung, usus, pernapasan, ginjal, dll. Kebutuhan kalori klien lanjut usia tidak melebihi 1700-2100 kalori, yang bersumber dari karbohidrat, lemak, dan protein. Sebaiknya disesuaikan dengan macam kegiatannya. Kebutuhan protein normal usia lanjut usia adalah 1 gr / kg BB / hari.
Untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan di Posyandu Lansia, dibutuhkan, sarana dan prasarana penunjang, yaitu: tempat kegiatan (gedung, ruangan atau tempat terbuka), meja dan kursi, alat tulis, buku pencatatan kegiatan, timbangan dewasa, meteran pengukuran tinggi badan, stetoskop, tensi meter, peralatan laboratorium sederhana, thermometer, Kartu Menuju Sehat (KMS) lansia
Mekanisme Pelayanan Posyandu Lansia
Berbeda dengan posyandu balita yang terdapat sistem 5 meja, pelayanan yang diselenggarakan dalam posyandu lansia tergantung pada mekanisme dan kebijakan pelayanan kesehatan di suatu wilayah kabupaten maupun kota penyelenggara. Ada yang menyelenggarakan posyandu lansia sistem 5 meja seperti posyandu balita, ada juga hanya menggunakan sistem pelayanan 3 meja, dengan kegiatan sebagai berikut :
1. Meja I : pendaftaran lansia, pengukuran dan penimbangan berat badan dan atau tinggi badan
2. Meja II : Melakukan pencatatan berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (IMT). Pelayanan kesehatan seperti pengobatan sederhana dan rujukan kasus juga dilakukan di meja II ini.
3. Meja III : Melakukan kegiatan penyuluhan atau konseling, disini juga bisa dilakukan pelayanan pojok gizi.
2.2.2. Pendidikan gizi
Pendidikan gizi merupakan suatu bidang pengetahuan yang memungkinkan seseorang memilih dan mempertahankan pola makan berdasarkan prinsip-prinsip ilmu gizi.
Perilaku gizi seimbang adalah pengetahuan, sikap dan tindakan lansia meliputi konsumsi makanan seimbang dan berperilaku hidup sehat. Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah respon seseorang (organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan.
Salah satu timbulnya gangguan gizi adalah kurangnya pengetahuan gizi. Solusi dapat dilakukan melalui suatu proses belajar mengajar tentang pangan, bagaimana tubuh menggunakan zat gizi dan bagaimana zat gizi tersebut diperlukan untuk menjaga kesehatan. Seseorang yang didasari dengan pengetahuan gizi memperhatikan keadaan gizi setiap makanan yang dikonsumsinya, dengan tujuan agar makanan tersebut memberikan gizi yang sesuai dengan yang dibutuhkan oleh tubuh atau sering disebut gizi seimbang.
Hal-hal yang menujukkan tentang pentingnya pengetahuan yang didasarkan pada kenyataan yaitu :
1. Status gizi yang baik sangat penting untuk kesehatan dan kesejahteraan.
2. Setiap orang hanya akan cukup jika makanan yang dimakannya mampu menyediakan zat-zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan tubuh yang optimal, pemeliharaan dan pertambahan energi.
3. Ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang penting sehingga penduduk dapat belajar menggunakan pangan dengan baik bagi keseimbangan gizi.
Pengetahuan gizi seseorang didukung oleh latar belakang pendidikannya. Rendahnya pengetahuan lansia menyebabkan berbagai keterbatasan dalam menangani masalah gizi dan kesehatan sekalipun didaerah tempat tingggalnya banyak tersedia bahan makanan (sayur dan buah), serta pelayanan kesehatan yang memadai yang dapat menyampaikan informasi tentang bagaimana mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi.
Pengetahuan tentang gizi, sebaiknya lansia mendapat bimbingan dan pengawasan dari orang yang lebih mengerti tentang masalah tersebut, sehingga lansia semakin tau dan mengerti tentang gizi dan dapat melaksanakannya dengan baik. Pengetahuan lansia tentang gizi yang baik akan mendukung konsumsi makanan yang baik juga sehingga terjadi gizi seimbang untuk mengoptimalkan derajat kesehatan.
2.2.3. Penyuluahan Kesehatan dan Konseling Gizi
Penyuluhan Kesehatan bertujuan mengembangkan pengertian yang benar dan sikap yang positif individu/ pasien atau kelompok/ keluarga pasien (receiver) agar yang bersangkutan menerapkan cara hidup sehat dalam hidupnya sehari-hari atas kesadaran dan kemauan sendiri. Kegiatan penyuluhan di dilakukan oleh perawat, petugas penyuluhan kesehatan masyarakat, sedangkan konsultasi gizi diberikan oleh petugas gizi masyarakat yang sudah berpengalaman dalam teknik-teknik penyampaian informasi dan komunikasi dua arah. Jumlah petugas diruang penyuluhan dan konsultasi gizi adalah 4 orang petugas yang terdiri dari 2 orang perawat, satu orang petugas penyuluhan kesehatan masyarakat dan satu orang ahli gizi. Penyuluhan kesehatan masyarakat di BBKPM Bandung bertujuan agar pasien dan keluarga memahami:
1. Perjalanan dan bahaya penyakit paru pada umumnya dan khususnya penyakit TBC
2. Cara penularan penyakit TBC, Tata cara minum obat dan akibat yang ditimbulkan bila pengobatan tidak teratur atau tidak tuntas.
3. Pengertian tentang Pengawas Minum Obat (PMO)
4. Pemakaian alat kontrasepsi selama pengobatan
5. Pengarahan khusus kepada pasien penderita keluhan mental, tuna rungu, stress dan lain-lain
6. Cara hidup sehat, sanitasi lingkungan dan perumahan, kesehatan perorangan (personal hygiene) dan faktor-faktor yang bisa menghambat proses kesembuhan pada pasien.
Konseling gizi adalah suatu proses komunikasi interpersonal / dua arah antarakonselor dan klien untuk membantu klienmengenali, mengatasi dan membuatkeputusan yang benar dalam mengatasimasalah gizi yang dihadapinya
Konseling gizi dilakukan oleh ahli gizi yaitu lulusan program D3 gizi/ Div gizi yangdisebut nutritionist atau dietetion. Dalam proses konseling gizi ada beberapa tahapan yang harus dilalui yaitu pengkajian gizi, diagnosa gizi, intervensi gizi dan monitoring evaluasi.
Maksud pemberian konsultasi gizi pada pasien adalah untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit, meningkatkan pengetahuan penderita dan keluarga tentang asupan gizi yang diperlukan untuk mempercepat penyembuhan penyakit yang diderita. Konsultasi Gizi juga dimaksudkan untuk meningkatkan status gizi penderita melalui bimbingan penyusunan menu makanan dan melakukan evaluasi terhadap peningkatan status gizi melalui pemantauan kenaikan berat badan. Pelayanan penyuluhan dilakukan oleh tenaga ahli gizi. Prosedur standar penyuluhan gizi adalah:
1. Petugas mencatat identitas pasien pada buku pencatatan laporan harian, Kartu Menuju Sehat, Leaflet diet yang bersangkutan dan sistem informasi manajemen BBKPM
2. Pasien harus memperlihatkan hasil pemeriksaan laboratorium sebagai bahan kajian
3. kemudian dilakukan pengukuran anthropometri (penimbangan berat badan, tinggi badan atau panjang badan untuk bayi.
4. Selanjutnya petugas melakukan pengkajian status gizi berdasarkan standar Indeks Massa Tubuh (IMT) untuk pasien dewasa dan standar WHO NCS untuk pasien anak
5. Melakukan pengkajian kebiasaan makan, pola makan dan asupan maka dalam sehari (anamnesa)
Berdasarkan data-data diatas petugas akan mengetahui status pasien dan memberikan penyuluhan gizi sesuai dengan penyakit yang di derita serta obat yang diminum. Konsultasi gizi diberikan berdasarkan penyakit yang di derita kepada:
1. Pasien TB yang berstatus gizi buruk
2. Penderita gizi kurang defisiensi kalori, protein, anemia, dan penyakit paru-paru, dengan berat badan di bawah normal serta asma kronis, bronchitis kronis, dan emfisema.
3. Orang tua anak balita yang mengalami gizi kurang baik, KEP Berat, KEP Sedang, KEP Ringan
4. Pasien penderita Diabetes Mellitus
5. Pasien penyakit hati seperti hepatitis dan pasien penyakit paru yang disertai dengan kadar SGOT, SGPT dan bilirubin tinggi
6. Pasien yang menderita penyakit lambung dan gangguan pencernaan
7. Pasien penderita tekanan daran tinggi (hypertensi)
8. Pasien dengan kadar asam urat tinggi
9. Pasien penyakit paru yang disertai dengan kadar kolesterol dan lemak tinggi
10. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk pasien gizi buruk.
Untuk menunjang pekerjaan di lengkapi dengan Manequin (alat peraga organ tubuh),Food Model, Alat Timbang Badan dan Tinggi Badan (Microtoise) juga poster-poster dan Leaflet.
Menu seimbang untuk lansia adalah susunan yang mengandung cukup semua unsure gizi yang dibutuhkan lansia (Nugroho, 2008). Syarat menu yang seimbang untuk lansia menurut Nugroho (2008) antara lain :
1. Mengandung zat gizi beraneka ragam bahan makanan yang terdiri atas zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur.
2. Jumlah kalori yang baik untuk dikonsumsi oleh lansia adalah 50% dari hidrat arang yang merupakan hidrat arang kompleks (sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian).
3. Jumlah lemak dalam makanan dibatasi, yaitu 25-30% dari total kalori.
4. Jumlah protein yang baik dikonsumsi disesuaikan dengan lanjut usia, yaitu 8-10% dari total kalori.
5. Dianjurkan mengandung tinggi serat (selulosa) yang bersumber pada buah, sayur, dan macam-macam pati, yang dikonsumsi dalam jumlah besar secara bertahap.
6. Menggunakan bahan makanan yang tinggi kalsium, seperti susu non-fat, yoghurt, dan ikan.
7. Makanan mengandung tinggi zat besi (Fe), seperti kacang-kacangan, hati, daging, bayam, atau sayuran hijau.
8. Membatasi penggunaan garam.
9. Bahan makanan sebagai sumber zat gizi sebaiknya dari bahan makanan yang segar dan mudah dicerna.
10. Hindari bahan makanan yang tinggi mengandung alkohol.
11. Pilih makanan yang mudah dikunyah seperti makanan lunak.
2.2.4. Keluarga Sadar Gizi (KADARZI)
KADARZI adalah suatu keluarga yang mampu mengenal, mencegah dan
mengatasi masalah gizi setiap anggotanya. Suatu keluarga disebut KADARZI apabila telah berperilaku gizi yang baik yang dicirikan minimal dengan:
a. Menimbang berat badan secara teratur.
b. Memberikan Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sejak lahir sampai umur enam bulan (ASI eksklusif).
c. Makan beraneka ragam.
d. Menggunakan garam beryodium.
e. Minum suplemen gizi sesuai anjuran
Promosi KADARZI adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan keluarga melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, agar dapat mengenal, mencegah dan mengatasi masalah gizi setiap anggotanya, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat sesuai sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang mendukung upaya KADARZI.
Strategi dasar utama promosi KADARZI adalah menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk sadar gizi yang diperkuat dengan bina suasana dan advokasi serta didukung oleh kemitraan. Upaya mengubah dan atau menciptakan perilaku sadar gizi harus didukung oleh upaya-upaya lain yang berkaitan, seperti: Pemberlakuan kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang mendukung KADARZI, peningkatan keterjangkauan pelayanan gizi, peningkatan ketahanan pangan di seluruh kelurahan dan desa, serta subsidi pangan bagi keluarga miskin.
1. Gerakan Pemberdayaan Masyarakat
Adalah proses pemberian informasi KADARZI secara terus menerus dan
berkesinambungan mengikuti perkembangan sasaran di berbagai tatanan, serta proses membantu sasaran, agar sasaran tersebut berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar gizi, dari tahu menjadi mau dan dari mau menjadi mampu melaksanakan perilaku sadar gizi. Sasaran utama pemberdayaan masyarakat adalah individu, keluarga dan kelompok masyarakat.
2. Bina Suasana
Adalah upaya menciptakan opini atau lingkungan sosial yang mendorong
individu, keluarga dan kelompok masyarakat untuk mau melakukan perilaku KADARZI. Seseorang akan terdorong untuk melakukan perilaku sadar gizi apabila lingkungan sosial dimana dia berada (keluarga di rumah, orang-orang menjadi panutan, idolanya, majelis agama, dan lain-lain) memiliki opini yang positif terhadap perilaku sadar gizi. Bina suasana perlu dilakukan karena akan mendukung proses pemberdayaaan masyarakat khususnya dalam upaya mengajak para individu dan keluarga dalam penerapan perilaku sadar gizi
3. Advokasi
Adalah upaya atau proses yang strategis dan terencana untuk mendapatkan komitmen dan dukungan dari pihak-pihak yang terkait (stakeholders). Advokasi diarahkan untuk menghasilkan kebijakan yang mendukung peningkatan penerapan KADARZI. Kebijakan publik di sini dapat mencakup peraturan perundangan di tingkat nasional maupun kebijakan di daerah seperti Peraturan Daerah (PERDA), Surat Keputusan Gubernur, Bupati/Walikota, Peraturan Desa dan lain sebagainya.
4. Kemitraan
Gerakan pemberdayaan, bina suasana dan advokasi akan lebih efektif bila
dilaksanakan dengan dukungan kemitraan. Kemitraan KADARZI adalah suatu kerja sama yang formal antara individu-individu, kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi untuk mencapai peningkatan KADARZI. Kemitraan KADARZI berlandaskan pada 3 prinsip dasar yaitu: Kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan
2.2.5. Fortifikasi dan Suplementasi Pangan
Fortifikasi pangan adalah penambahan satan atan lebih zat gizi (nutrien)
kepangan. Tujuan utama adalah untuk meningkatkan tingkat konsumsi dari zat gizi yang ditambahkan untuk meningkatkan status gizi populasi. harus diperhatikan bahwa peran pokok dari fortifikasi pangan adalah pencegahan detisiensi: dengan demikian menghindari terjadinya gangguan yang membawa kepada penderitaan manusia dan kerugian sosio ekonomis. Namun demikian, fortitkasi pangan juga digunakan untuk menghapus dan mengendalikan defisiensi zat gizi dan gangguan yang diakibatkannya.
Untuk menggambarkan proses penambahan zat gizi ke pangan, istilah-istilah lain seperti enrichment (pengkayaan), nutrification (Harris, 1968) atan restoration telah saling dipertukarkan, meskipun masing-masing mengimplikasikan tindakan spesifik. Fortifikasi mengacu kepada penambahan zat-zat gizi pada taraf yang lebih tinggi dari pada yang ditemukan pada pangan asal/awal atau pangan sebanding. Enrichment biasanya mengacu kepada penambahan satu atan lebih zat gizi pada pangan asal pada taraf yang ditetapkan dalam standar intemasional (indentitas pangan). Restoration mengacu kepada penggantian zat gizi yang hilang selama proses pengolahan, dan nutrification berarti membuat campuran makanan atau pangan lebih bergizi. Menurut Banernfeind (1994) istilah nutrification lebih spesifik terhadap ilmu gizi, sementara semua istilah-istilah yang lain diadopsi dari disiplin dan aplikasi lain.
Suplementasi adalah penambahan satu atau lebih unsur pada keadaan yang biasa terjadi. Suplementasi gizi adalah satu atau lebih zat gizi yang ditambahkan ke konsumsi makanan sehari-hari dengan harapan terpenuhi kebutuhan gizinya.

DAFTAR PUSTAKA